Latar Belakang Masalah..
Internet saat ini menjadi alat bantu yang berguna bagi pemenuhan kebutuhan informasi salah satunya adalah media informasi yang kita kenal sebagai facebook. Facebook sebagai jaringan sosial digunakan untuk berkomunikasi dengan teman-teman kita yang biasanya bersifat santai, namun facebook pun bisa digunakan untuk hal-hal yang serius, untuk promosi bisnis misalnya. Facebook telah banyak digunakan di seluruh dunia, salah satunya adalah Indonesia. Hampir seluruh lapisan masyarakat di indonesia telah menggunakan media informasi seperti facebook. Bahkan hampir seluruh lapisan mulai menggunakan media informasi seperti facebook. Tidak hanya kalangan SMA, remaja, dan orang dewasa yang menggunakan facebook bahkan anak usia Sekolah Dasar pun telah menggunakan facebook. Hal ini yang nampaknya dapat memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan kognitif seorang anak.
Anak usia Sekolah Dasar atau yang biasa disebut dengan anak usia madya memiliki perkembangan kemampuan kognitif yang berkembang secara pesat. Karena anak usia madya memiliki dunia dan minat yang luas, dan dengan meluasnya minat maka bertambah pula pengertian tentang manusia dan objek-objek yang sebelumnya kurang berarti bagi anak. Dalam keadaan normal, pikiran anak usia madya berkembang secara berangsur-angsur. Kalau pada masa sebelumnya daya pikir anak masih bersifat imajinatif dan egosentris, maka pada masa usia madya ini daya pikir anak berkembang ke arah berpikir konkrit, rasional dan objektif. Daya ingatnya menjadi sangat kuat, sehingga anak benar-benar berada dalam suatu stadium belajar.
Facebook memiliki arti yang penting bagi manusia pada masa kini, baik anak remaja, orang-orang dewasa bahkan anak usia madya sekalipun. Hal ini ditandai dengan maraknya berbagai aspek yang tersebar dalam facebook mulai dari pendidikan, komunikasi, bisnis, hingga kehidupan pribadi pun tertuang dalam facebook. Keberadaan facebook di tengah-tengah kehidupan anak usia madya pada saat ini tentunya memberikan pengaruh bagi perkembangan kognitif seorang anak, baik positif maupun negatif.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Media informasi seperti facebook dapat mempengaruhi perkembangan kognitif anak usia madya.
1.Facebook
Facebook adalah jaringan sosial website yang beroperasi dan dimiliki secara pribadi oleh Facebook, Pengguna dapat menambahkan teman dan mengirim pesan mereka, dan memperbarui profil pribadi mereka untuk memberitahu teman-teman tentang diri mereka sendiri. Sebagai tambahan, pengguna dapat bergabung dengan jaringan yang diselenggarakan oleh kota, tempat kerja, dan sekolah atau perguruan tinggi. Nama website berasal dari nama sehari-hari buku-buku yang diberikan pada awal tahun akademik oleh universitas pemerintah dengan tujuan membantu siswa untuk mengenal satu sama lain lebih baik. Facebook menyediakan cara mudah bagi setiap orang untuk tetap berhubungan dan bagi individu untuk memiliki kehadiran di Web tanpa perlu membangun sebuah website. Facebook merupakan fasilitas yang mudah untuk meng-upload foto dan video, hampir setiap orang dapat mempublikasikan multimedia profil.
Selama ini facebook lebih banyak dipakai untuk sekedar bersenang-senang, bersilaturrahim sama teman, atau sekedar ajang narsis-narsisan. Sampai saat ini, banyak pihak yang memandang facebook secara negatif. Mereka berpikir bahwa keberadaan facebook bisa menurunkan kinerja kegiatan seorang anak. Ada juga yang bilang facebook itu berbahaya karena bisa digunakan sebagai sarana pelecehan dan pencemaran nama baik. Dalam facebook menawarkan suatu kemudahan untuk memperoleh berbagai informasi dari penjuru dunia kepada penggunanya. Berbagai informasi yang diperoleh pengguna bervariasi, dari yang merupakan cerita pribadi, ilmu pengetahuan, hingga konten berbau pornografi dan kekerasan. Terlepas dari itu, banyak anak yang menjadi korban akibat pengaruh dari dunia facebook. Misalnya saja, para anak yang memanfaatkan facebook sebagai sarana ajang permainan seperti uno, farmfile dan lain-lain. Gamers menggunakan facebook bisa sebagai alat pemuas kebutuhan seorang anak. Tidak hanya digunakan sebagai penghilang penat, bermain game melalui facebook justru dijadikan sebagai hobi bahkan sebagai kegiatan mereka sehari-hari. Mereka mengindahkan kegiatan-kegiatan yang seharusnya mereka kerjakan demi kehidupannya. Tetapi yang terlihat adalah mereka yang menjadi budak game-game dalam facebook, bahkan untuk mandi, tidur atau bahkan belajar sudah bukan menjadi hal yang utama bagi mereka. Selain permainan facebook juga dapat membuat anak menjadi lebih dewasa sebelum waktunya dengan perkenalan-perkenalan melalui dunia maya.
Diluar sisi negatif itu, facebook tetap memiliki banyak manfaat, jauh lebih banyak ketimbang mudharat-nya. Efek negatif itu muncul hanya karena oknum-oknum tertentu yang tidak menggunakan teknologi sebagaimana mestinya. Dan pengaruhnya tidak hanya terhadap bidang teknik komunikasi komputer saja tetapi juga berpengaruh kepada masalah sosial seperti yang sekarang anak-anak lakukan yaitu banyak mempergunakan alat-alat bantu online seperti facebook untuk berinteraksi.
Ada banyak sarana dan fitur-fitur facebook yang bisa dipakai untuk sarana dalam belajar. Berikut beberapa contohnya:
Facebook Share. Ini merupakan fitur dasar di facebook. Fitur ini pastinya juga bisa digunakan sebagai sarana untuk membantu pembelajaran. Siapapun bisa men-share apapun (tulisan singkat, link, gambar, video dsb) ke semua teman-temannya.
Facebook Quiz. saat ini sudah banyak quiz-quiz yang beredar di facebook. Rata-rata hanya quiz yang dibuat untuk sekedar iseng. Fitur ini sejatinya bisa dipakai untuk melakukan quiz online. Sang guru bisa membuat quiz-nya dengan mudah kemudian menyuruh seluruh muridnya untuk mengerjakan quiz tersebut.
Facebook Note. Dengan sarana ini sang guru bisa memancing murid-muridnya saling berdiskusi mengenai topik tertentu. Sang guru cukup membuat note disana kemudian men-tag seluruh muridnya untuk memancing diskusi.
Facebook Apps. Dengan fitur ini hampir segalanya bisa dilakukan. Salah satunya adalah dengan membuat sebuah game edutainment pada platform facebook Apps ini. Salah satu contoh Facebook Apps game edutainment yang cukup terkenal dan banyak dimainkan adalah Geo Challenge. Sebuah aplikasi game untuk menguji pengetahuan geografis dari pemain-pemainnya.
Paling tidak itu 4 contoh pemanfaatan facebook sebagai media bantu pembelajaran. Tentunya pemanfaatan facebook ini pasti akan digandrungi oleh para murid karena disana mereka bisa belajar sambil bersenang-senang.
2.Perkembangan Kognitif Anak Usia Madya/ Usia Sekolah Dasar menurut Teori Piaget.
Menurut teori kognitif Piaget, pemikiran anak-anak usia dasar disebut pemikiran operasional konkrit (concrete operational thought). Menurut Piaget, operasi adalah hubungan-hubungan logis di antara konsep-konsep atau skema-skema. Sedangkan operasi konkrit adalah aktivitas mental yang difokuskan pada objek-objek dan peristiwa-peristiwa nyata atau konkrit dapat diukur.
Pada masa ini anak sudah mengembangkan pikiran logis. Ia mulai mampu memahami operasi dalam sejumlah konsep, seperti 5 x 6 = 30; 30 : 6 = 5. Dalam upaya memahami alam sekitarnya, mereka tidak lagi terlalu mengandalkan informasi yang bersumber pada panca indra karena ia mulai mempunyai kemampuan untuk membedakan apa yang tampak oleh mata dengan kenyataan yang sesungguhnya, dan antara yang bersifat sementara dengan yang bersifat menetap. Misalnya, mereka akan tahu bahwa air dalam gelas besar pendek dipindahkan ke dalam gelas yang kecil tinggi, jumlahnya akan tetap sama karena tidak satu tetes pun yang tumpah. Hal ini adalah karena mereka tidak lagi mengandalkan persepsi penglihatannya, melainkan sudah mampu menggunakan logikanya. Mereka dapat mengukur, menimbang, menghitung jumlahnya, sehingga perbedaan yang nyata tidak “membodohkan” mereka.
Menurut Piaget, anak-anak pada masa konkrit operasional ini telah mampu menyadari konservasi, yakni kemampuan anak untuk berhubungan dengan sejumlah aspek yang berbeda secara serempak. Hal ini adalah karena pada masa ini anak telah mengembangkan tiga macam proses yang disebut dengan operasi-operasi, yaitu: negasi, resiprokasi, dan identitas.
Negasi (negation). Pada masa pra-operasional anak hanya dapat melihat keadaan permulaan dan akhir dari deretan benda, yaitu pada mulanya keadaannya sama dan pada akhirnya keadaannya menjadi tidak sama. Anak tidak dapat melihat apayang terjadi diantaranya. Tetapi, pada masa konkrit operasional, aak memahami proses apa yang terjadi diantara kegiatan itu dan memahami hubungan-hubungan antara keduanya. Pada deretan benda-benda anak bisa –melalui kegiatan mentalnya- mengembalikan atau membatalkan perubahan yang terjadi sehingga bisa menjawab bahwa jumlah benda-benda adalah tetap sama.
Hubungan timbal balik (resiprokasi). Ketika anak melihat bagaimana deretan dari benda-benda itu diubah, anak mengetahui bahwa deretan benda-benda bertambah panjang tetapi tidak rapat lagi dibandingkan dengan deretan lain. Karena anak mengetahui hubungan timbal balik antara panjang dan kurang rapat atau sebaliknya kurang panjang tetapi lebih rapat, maka anak tahu pula bahwa jumlah benda-benda yang ada pada kedua deretan itu sama.
Identitas. Anak pada masa konkrit operasional sudah bisa mengenal satu persatu benda-benda yang ada pada deretan-deretan itu. Anak bisa menghitung, sehingga meskipun benda-benda dipindahkan, anak dapat mengetahui bahwa jumlahnya akan tetap sama.
Setelah mampu mengkonservasi angka, maka anak bisa mengkonservasi dimensi-dimensi lain, seperti isi dan panjang. Kemampuan anak melakukan operasi-operasi mental dan kognitif ini memungkinkannya mengadakan hubungan yang lebih luas dengan dunianya. Operasi yang terjadi dalam diri anak memungkinkan pula untuk mengetahui suatu perbuatan
Tanpa melihat bahwa perbuatan tersebut ditunjukkan. Jadi, anak telah memiliki struktur kognitif yang memungkinnya dapat berpikir untuk melakukan suatu tindakan, tanpa ia sendiri bertindak secara nyata. Hanya saja, apa yang dipikirkan oleh anak masih terbatas pada hal-hal yang ada hubungannya dengan sesuatu yang konkrit, suatu realitas secara fisik, benda-benda yang benar-benar nyata. Sebaliknya, benda-benda atau peristiwa-peristiwa yang tidak ada hubungannya secara jelas dan konkrit dengan realitas, masih sulit dipikirkan oleh anak-anak.
Keterbatasan lain yang terjadi dalam kemampuan berpikir konkrit anak ialah egosentrisme. Artinya, anak belum mampu membedakan antara perbuatan-perbuatan dan objek-objek yang secara langsung dialami dengan perbuatan-perbuatan dan objek-objek yang hanya ada dalam pikirannya. Misalnya, ketika kepada anak diberikan soal, ia tidak akan mulai dari sudut objeknya, melainkan ia akan mulai dari dirinya sendiri. Egosentrisme pada anak terlihat dari ketidakmampuan anak untuk melihat pikiran dan pengalaman sebagai dua gejala yang masing-masing berdiri sendiri.
3.Kesimpulan..
Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa facebook dapat mempengaruhi perkembangan kognitif anak usia madya, baik dalam hal positif maupun hal yang negatif. Karena pada masa anak usia madya anak-anak berada pada masa konkrit operasional dan mampu menyadari konservasi, yakni kemampuan anak untuk berhubungan dengan sejumlah aspek yang berbeda secara serempak. Hal ini adalah karena pada masa ini anak telah mengembangkan tiga macam proses yang disebut dengan operasi-operasi, yaitu: negasi, resiprokasi, dan identitas. Dan dengan adanya ketiga hal tersebut seorang anak dapat memahami dan membedakan baik buruknya sebuah media informasi yang biasa disebut dengan Facebook. Hal ini ditandai dengan maraknya berbagai aspek yang tersebar dalam facebook mulai dari pendidikan, komunikasi, bisnis, hingga kehidupan pribadi pun tertuang dalam facebook. Keberadaan facebook di tengah-tengah kehidupan anak usia madya pada saat ini tentunya memberikan pengaruh bagi perkembangan kognitif seorang anak, baik positif maupun negatif.
4.Daftar Pustaka...
http://www.facebook.com/facebook
Desmita., “Psikologi Perkembangan”, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar