Selasa, 16 Maret 2010

Anak Usia Dini

Anak Usia Dini

1.Pengertian Anak Usia Dini
Masa anak-anak usia dini dimulai setelah melewati masa bayi yang penuh ketergantungan, yakni kira-kira usia 2 tahun sampai saat anak matang secara seksual, yakni kira-kira usia 13 tahun untuk wanita dan 14 tahun untuk pria. Selama periode kira-kira 11 tahun bagi wanita dan 12 tahun bagi pria) terjadi sejumlah perubahan yang signifikan, baik secara fisik maupun psikologis (Desmita, 2006).
Masa anak usia dini adalah masa anak-anak awal yang berlangsung dari umur 2 tahun sampai 6 tahun, dan masa anak-anak akhir dari usia 6 tahun sampai saat anak matang secara seksual (Hurlock dalam Desmita, 2006).
Berdasarkan definisi-definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa anak usia dini merupakan masa anak-anak awal yang berusia dari umur 2 tahun sampai 6 tahun dan mengalami perubahan yang signifikan baik secara fisik maupun psikologis.

2.Perkembangan Kognitif dan Metakognitif pada Anak Usia Dini
Sebagai anak yang mulai tumbuh menjadi lebih besar, mereka berusaha mengetahui tentang pikirannya sendiri, tentang bagaimana belajar dan mengingat situasi-situasi yang dialami setiap hari, dan bagaimana, seseorang dapat meningkatkan penilaian kognitif mereka. Piaget dalam Desmita (2006), mengemukakan bahwa perkembangan kognitif pada masa awal anak-anak dinamakan tahap praoperasional (praoperational stage), yang berlangsung dari usia 2 hingga 7 tahun. Pada tahap ini, konsep yang stabil dibentuk, penalaran mental muncul, egosentrisme mulai kuat dan kemudian melemah, serta terbentuknya keyakinan terhadap hal yang magis. Tetapi, sebagai “pra” dalam istilah “praoperasional”, menunjukkan pada aktivitas mental yang memungkinkan anak untuk memikirkan peristiwa-peristiwa atau pengelaman-pengalaman yang dialaminya.
Para ahli psikologi menyebut tipe pengetahuan ini dengan metakognitif (metacognitive), yaitu pengetahuan tentang kognisi (Wellman dalam Desmita, 2006). Menurut margaret W. Matlin dalam Desmita (2006), metakognitif adalah “knowledge and awareness about cognitive processes – or our thoughts about thinking.” Jadi, yang dimaksud dengan metakognitif adalah pengetahuan dan kesadaran tentang proses kognisi atau kesadaran kita tentang pemikiran. Metakognitif merupakan suatu proses menggugah rasa ingin tahu karena kita menggunakan proses kognitif kita untuk merenungkan proses kognitif kita sendiri. Metakognitif ini memiliki arti yang sangat penting, karena pengetahuan kita tentang proses kognitif kita sendiri dapat memandu kita dalam menata suasana dan menyeleksi strategi untuk meningkatkan kemampuan kognitif kita di masa mendatang.
Wellman dan Gelman dalam Desmita (2006) juga menunjukkan bahwa pemahaman anak tentang pemikiran manusia tumbuh secara ekstensif sejak tahun-tahun pertama kehidupannya. Kemudian pada usia 3 tahun anak menunjukkan suatu pemahaman bahwa kepercayaan-kepercayaan dan keinginan-keinginan internal dari seseorang berkaitan dengan tindkan-tindakan orang tersebut. Secara lebih rinci Wellman menunjukkan kemampuan Pikiran anak usia 3 tahun dalam empat tipe pemahaman yang menjadi dasar bagi pikiran teoritis mereka, yaitu:
a.Memahami banyak pikiran terpisah dari objek-objek lain
b.Memahami bahwa pikiran menghasilkan keinginan dan kepercayaan
c.Memahami tentang bagaiman tipe-tipe keadaan mental yang berbeda-beda berhubungan, dan
d.Memahami bahwa pikiran digunakan untuk menggambarkan realitas eksternal.

Berdasarkan uraian diatas perkembangan kognitif dan metakognitif pada anak usia dini dinamakan tahap praoperasional (praoperational stage), yang berlangsung dari usia 2 hingga 7 tahun. Pada tahap ini, konsep yang stabil dibentuk, penalaran mental muncul, egosentrisme mulai kuat dan kemudian melemah, serta terbentuknya keyakinan terhadap hal yang magis. Dan pemahaman anak tentang pemikiran manusia tumbuh secara ekstensif sejak tahun-tahun pertama kehidupannya. Kemudian pada usia 3 tahun anak menunjukkan suatu pemahaman bahwa kepercayaan-kepercayaan dan keinginan-keinginan internal dari seseorang berkaitan dengan tindakan-tindakan orang tersebut

3.Perkembangan Bahasa pada Anak Usia Dini
Schaerlaekens dalam Desmita, (1997), membedakan perkembangan bahasa pada masa awal anak-anak ini atas tiga, yaitu periode pra-lingual (kalimat-satu-kata), periode lingual-awal (kalimat-dua-kata) dari 1 hingga 2,5 tahun, dan periode differensiasi (kalimat-tiga-kata dengan bertambahnya diferensiasi pada kelompok kata dan kecapan verbal).
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa perkembangan bahasa dapat dibagi menjadi beberapa tahap yaitu periode pra-lingual (kalimat-satu-kata), periode lingual-awal (kalimat-dua-kata), dan periode differensiasi (kalimat-tiga-kata dengan bertambahnya diferensiasi pada kelompok kata dan kecapan verbal).

1.Fungsi Permainan pada Anak Usia Dini
Permainan menpunyai arti yang sangat penting bagi perkembangan kehidupan anak-anak. Hetherington dan Parke (1979), menyebutkan tiga fungsi utama dari pemainan, yaitu:
Fungsi Kognitif Permainan membantu perkembangan kognitif anak. Melalui permainan, anak-anak menjelajahi lingkungannya, mempelajari objek-objek di sekitarnya, dan belajar memecahkan masalah yang diahadapinya.
Fungsi sosial permainan dapat meningkatkan perkembangan sosial anak. Khususnya dalam permainan fantasi dengan memerankan suatu peran, anak belajar memahami orang lain dan peran-peran yang akan ia mainkan di kemudian hari setelah tumbuh menjadi orang dewasa.
Fungsi emosi permainan memungkinkan anak untuk memecahkan sebagian dari masalah emosionalnya, belajar mengatasi kegelisahan dan konflik batin. Permainam memungkinkan anak melepaskan energi fisik yang berlebihan dan membebaskan perasaan-perasaan yang terpendam. Karena tekanan-tekanan batin terlepaskan di dalam permainan, anak dapat mengatasi masalah-masalah kehidupan.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa fungsi utama dari permainan pada anak dapat dibagi menjadi tiga macam yaitu, Fungsi Kognitif Permainan membantu perkembangan kognitif anak, Fungsi sosial permainan dapat meningkatkan perkembangan sosial anak, Fungsi emosi permainan memungkinkan anak untuk memecahkan sebagian dari masalah emosionalnya

2.Jenis-Jenis Permainan pada Anak Usia Dini
Berdasarkan observasinya terhadap anak-anak usia 2 hingga 5 tahun, Parten dalam Desmita (2006) menemukan 6 kategori permainan anak-anak yaitu:
a.Permainan Unoccupied. Anak memperhatikan dan melihat segala sesuatu yang menarik perhatiannya dan melakukan gerakan-gerakan bebas dalam bentuk tingkah laku yang tidak terkontrol.
b.Permainan Solitary. Anak dalam sebuah kelompok asyik bermain sendiri-sendiri dengan bermacam-macam alat permainan, sehingga tidak terjadi kontak antara satu sama lain dan tidak peduli terhadap apa pun yang terjadi.
c.Permainan Onlooker. Anak melihat dan memperhatikan anak-anak lain bermain. Anak ikut berbicara dengan anak-anak lain itu dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, tetapi ia tidak ikut terlibat dalam aktivitas permainan tersebut.
d.Permainan Parallel. Anak-anak bermain dengan alat-alat permainan yang sama, tetapi tidak terjadi kontak antara satu dengan yang lain atau tukar menukar alat permainan.
e.Permainan Assosiative. Anak bermain bersama-sama saling pinjam alat permainan, tetapi permainan itu tidak mengarah pada suatu tujuan, tidak ada pembagian peranan dan pembagian alat-alat permainan.
f.Permainan Cooperative. Anak-anak bermain dalam kelompok yang terorganisir, dengan kegiatan-kegiatan konstruktif dam membuat sesuatu yang nyata, di mana setiap anak mempunyai peranan sendiri-sendiri. Kelompok ini dipimpin dan diarahkan oleh satu atau dua orang anak sebagai pemimpin kelompok.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa jenis-jenis permainan pada anak usia dini dapat digolongkan menjadi 6 kategori yaitu Permainan Unoccupied, Permainan Solitary, Permainan Onlooker, Permainan Parallel, Permainan Assosiative, Permainan Cooperative.

Desmita., “Psikologi Perkembangan”, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar